Tuesday, July 19, 2005
 
Cinta Laki-laki Biasa...


Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa
dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok kebelakang,
hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan
semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang: Papa dan Mama,
kakak-kakak,tetangga dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

"Kenapa?" tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar
bagaikan lampu neon 25 watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yang barangkali
beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua
menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas,
mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan
detail dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi
kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap.
Yang pertama terjadi 3 bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli
untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania anggap sebagai momen yang tepat,
karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya
yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

"Kamu pasti bercanda!"

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak
tertua,disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga dan terakhir dari
papa dan mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania
bercanda.

"Nania serius!" tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika
Rafli memang melamarnya.

"Tidak ada yang lucu," suara papa tegas. "papa hanya tidak mengira
Rafli berani melamar anak papa yang paling cantik!"

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat papa barusan adalah
pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata
penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya
pesakitan.

"Nania cuma mau Rafli," sahutnya pendek dengan airmata mengambang di
kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekedar tidak suka, melainkan
sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat.
Parah.

"Tapi kenapa?"

Sebab Rafli cuman laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan
pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat
sangat biasa.

Sementara kamu, sebentar lagi meraih gelar insinyur. Bakatmu yang
lainpun luar biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

"Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!"Cukup!
Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi
menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana
tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat
pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli.
Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu
tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar
biasa'.Nania cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun
Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima
Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.

Mereka akhirnya menikah.

***

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering
berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya,
Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar
tampak dimata mereka.

Nania hanya merasakan cinta yang begitu besar dari Rafli, begitu
besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan
mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat
perempuan itu sangat bahagia.

"Tak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania."
Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.
Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak
percaya.

'Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu!"
"Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar!"
"Betul, kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan
sukses!"

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini
dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

Tapi Rafli juga tidak jelek, kak!

Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?

Rafli juga pintar!

Tidak sepintarmu, Nania.

Rafli juga sukses, pekerjaaannya lumayan.

Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka
sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa
adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti.
Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki sepasang orang anak. Keduanya
menggemaskan.Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal
itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang.

"Tak apa," kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak
terlalu memforsir diri.

"Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Mas."

Nania tidak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak
perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap
hanya maksud baik.

"Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya?"

Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat
itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran
Nania cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa,
dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang
amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania.

Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin
gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak
pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan
itu berada di puncak.

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan
bergandengan mesra. Bisik orang di kantor, tetangga kanan dan kiri,
bisik saudara-saudara Nania, bisik papa dan mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari
puncak.Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun
waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania
menangis.

***

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua
minggu dari waktunya.

"Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus
segera dikeluarkan!"

Mula-mula dokter kandungan Nania memasukkan sejenis obat kedalam
rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semua normal, hanya dalam
hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit.
Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi
dan menunaikan shalat disisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta
orangtua Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat
pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa
sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga nenit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

"Baru pembukaan satu."
"Belum ada perubahan, bu."
"Sudah bertambah sedikit,"kata seorang suster empat jam kemudian
menyemaikan harapan."Sekarang pembukaan satu lebih sedikit."

Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang
memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tiga puluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan
pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu
kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka
meleset.

"Masih pembukaan dua, pak!"

Rafli tercengang. Cemas tak bisa menghibur karena rasa sakit yang
sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak
pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

"Mas?"

Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua
kehidupan.
"Dokter?"

"Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar."Mungkin?

Rafli dan Nia berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu?
bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang
karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar
operasi. Ia tak kuasa merasa sendiri dari awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruang serba putih. sebuah
sekat ditaruh di perutnya hingga dia tak bisa menyaksikan ketrampilan
dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Kesadarannya naik-turun.
Terakhir,telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di
sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak
sadarkan diri.

Kepanikan ada diudara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki
itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

"Pendarahan hebat."

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah.
Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana
pecah!

Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis, papa termangu lama sekali.
Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua
mereka.
Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu
tercengung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh
darahnya dan tak bisa di hentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.
Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

***

Setelah seminggu lebih Nania koma, selama itu Rafli bolak-balik dari
kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan
juga anak-anak. Terutama anggota keluarga yang baru, si kecil. Bayi itu
sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuta, juga daya hisapnya. Tidak sampai
empat hari, mereka sudah boleh membawanya pulang.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan
rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukur pihak
perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh,
dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah
Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang berbaring di ruang ICU.
Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk, melihat lelaki
dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra.

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan
kehadirannya.
"Nania, bangun, cinta?

Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan,
pipi dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan
berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari, mengaji dekat
Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu
membawakan buku-buku kesukaan Nania dan membacakannya dengan suara pelan. Sambil
tak bosan-bosannya berbisik,

"Nania, bangun, cinta?"

Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan.
Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi
cahaya dimata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber
semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli. Diluar itu Rafli tak
memerdulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau
badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.
Ia ingin melihat Nania lagi, gerak bibir, kernyitan kening, serta
gerakan-gerakan kecil lain diwajahnya yang cantik. Nania sudah tidur
terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan
wajah penat Rafli adalah yang pertama di tangkap matanya.
Seakan telah begitu lama Rafli menangis, menggenggam tangan Nania
dan mendekapnya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan
airmata yang meleleh.

Asalka Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam
doa.Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun
terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke
sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu
cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang
sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar terlihat cantik sebelum
tidur.Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun
tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan
itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah
selalu menyaksikan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah
perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

setiap hari minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan
keluar.Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di
restoran,nonton di bioskop, reaksi ke manapun Nania harus ikut.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang
di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli
yang berkeringat mendorong kursi roda Nania kesana kemari. Masih dengan
senyum hangat diantara wajahnya yang bermanik keringat.
Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya
di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak
puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh semua
berbisik-bisik.

"Baik banget suaminya!"
"Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!"
"Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya."
"Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana
suaminya memandangnya dengan penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka
masam!"

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, papa
dan mama.
Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin
frustasi, merasa tak berani, merasa?
Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian.
Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan
selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah
mereka. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya, Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semuanya,
anak-anak yang beranjak dewasa, rumah yang besar yang mereka tempati,
kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri, meski tubuhnya tak
berfungsi sempurna, meski kecantikannya tak lagi sama karena usia,
meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki
biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

by: opit (maksih kirimannya)

ipal @ 4:10 AM - -



                                                                 
profile

ival :



ival@Dal.Net
My chenel :#yogyacafe, #poolside, #sebelah, #joged, #bandunghelp, #yogya, #bandung


Jam
My Picture
gue gitu loh
Aku adalah angin yang pergi kesegala penjuru bumi.
Aku adalah daun kering yang mudah terbakar bila terkena api.
Aku adalah pohon kokoh yang tidak akan tumbang meski diterjang badai.
Aku adalah awan yang dapat meneteskan air dikala mendung.
Aku adalah hewan buas yang dapat membunuh apapun yang mengancamku.

Google